Senin, 07 Februari 2011

about prabu airlangga

Universitas Airlangga didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.57 Tahun 1954, dan diresmikan oleh Presiden RI Ir.Soekarno tanggal 10 November 1954 bertepatan dengan Hari Pahlawan IX.
eginilah pesan Sukarno kepada Universitas Airlangga pada 10 November 1960 yang dibacakan oleh Presiden Universitas saat itu.

Chusus terhadap Universitas Airlangga, termasuk para guru besarnja, para kurator-kuratornja, para mahasiswanja, dan semua pengasuh-pengasuhnja saja pesan: Djangan sampai Universitas Airlangga ketinggalan dalam mendidik kader-kader (bangsa) ini. Djangan sampai Universitas Airlangga melupakan djiwa “ilmu untuk amal”, Djangan sampai Universitas Airlangga lupa kepada semangat pahlawan-pahlawan kita.

“Djadikanlah Universitas Airlangga pusat ilmu jang menjinarkan amalnja untuk menebus jasa pahlawan-pahlawan kita” (Pesan Sukarno pada Dies ke-6 UA, 10 November 1960)



Nama Airlangga dipilih oleh para pendiri Universitas Airlangga sebagai suatu perwujudan penghormatan terhadap seorang Raja yang sekaligus sebagai Pahlawan Bangsa Indonesia di masa lampau dalam abad IX yang bernama Prabu Airlangga, yang memerintah kerajaan di Jawa Timur hingga wilayahnya mencapai Indonesia Timur.

Airlangga memiliki arti dan makna sebagai "Sang Peminum Air", adalah seorang raja bijak yang memerintah Jawa Timur sekitar tahun 1019 hingga tahun 1042. Nama lengkapnya adalah Raka Galuh Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikrama Tunggadewa. Nama yang panjang ini menandakan beliau sebagai raja yang bijak dan mempunyai pengaruh yang besar di kalangan rakyat, sahabat dan juga musuh-musuhnya.

Dalam waktu selama 20 tahun Airlangga berhasil memperkuat posisinya dan menguasai seluruh wilayah Jawa Timur dan sebagian dari kepulauan Sunda (Nusa Tenggara). Akhirnya terdapat dua kerajaan besar yang memerintah Indonesia waktu itu yaitu Kerajaan Airlangga di bagian Timur Indonesia, dan Kerajaan Sriwijaya di sebelah Barat, dengan pusat pemerintahannya di kota Palembang.

Semenjak menjadi raja Prabu Airlangga selalu menjalankan pemerintahan dengan penuh kebijaksanaan dan kearifan seperti dengan menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Sriwijaya, dan akhirnya Prabu Airlangga memperistri putri Raja Sriwijaya pada tahun 1023. Bangsa Indonesia sekarang sangat yakin bahwa kebijakan politik untuk mewujudkan koeksistensi damai antara Kerajaan Airlangga dengan Kerajaan Sriwijaya yang berdampingan dan bersikap damai itu, memiliki makna penting yaitu sesungguhnya beliau Prabu Airlangga telah mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di abad ke 11 lalu.

Di samping itu Raja Airlangga sangat memperhatikan nasib dan kondisi rakyat serta tingkat kesejahteraannya, oleh sebab itu Raja Airlangga telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki dan membangun irigasi, komunikasi, perdagangan dan pedesaan. Termasuk juga beliau sangat memperhatikan kondisi kehidupan sosial budaya dan spiritual. Beliau sempat juga dinobatkan sebagai pendeta dengan nama "Resi Gentaya".

Semasa hidupnya Raja Airlangga juga banyak menaruh perhatian pada mistik dan pola-pola pengobatan tradisional untuk dapat menghadapi dan menghilangkan berbagai penyakit dan bencana yang mungkin dihadapi oleh penduduk. Sang raja sangat yakin bahwa segala malapetaka dan kehidupan yang buruk dapat dilenyapkan jika warga masyarakat dapat menerapkan dan melaksanakan Hukum Suci atau "Sacred Law" sebagai tiang dalam masyarakat.

Setelah Raja Airlangga wafat tahun 1042, Sang Raja diabadikan ke dalam bentuk patung Bathara Wisnu yang duduk dan menaiki Garuda Mukti. Garuda Mukti dalam mitos kebudayaan Jawa sebagai makhluk yang kuat, tangguh, kokoh, serta sakti. Namun Bhatara Wisnu mampu menjinakkan dan menjadikan sebagai tempat singgasananya, karena Wisnu memang penuh kearifan, kehalusan, dan kesaktian. Demikianlah Raja Airlangga memperoleh pujian dari rakyatnya sebagai raja yang bijak, halus, dan sakti.

Kini lambang Universitas Airlangga adalah Garuda Muka dengan tunggawan Bhatara Wisnu. Yang disimbolkan sebagai Bhatara Wisnu adalah Prabu Airlangga sendiri, karena sakti, bijak dan kehalusan budinya.

Dari sejarah institusinya Universitas Airlangga berawal dari cikal bakal lembaga pendidikan Nederlands Indische Artsen School (NIAS) yang didirikan tahun 1913 oleh Pemerintah Belanda, di mana NIAS di Surabaya ini dijadikan sebagai cabang Universiteit Van Indonesie Jakarta, dan kemudian diberi nama Fakulteit der Geneeskunde. Demikian juga kemudian dibuka "Tandhellkundig Instituut" sebagai cabang dari Universiteit Van Indonesie Jakarta.

Bangunan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang masih merupakan bangunan peninggalan Belanda saat malam hari. Ada kesan angker. Apalagi ada patung lambang Airlangga.


KISAH SEJARAH




Kisah bermula pada saat Pangeran Airlangga muda, putra sulung Ramanda Raja Dharma Udhayana Warmadewa beserta Permaisuri Mahendradatta meninggalkan Pulau Bali menuju tanah Jawa. Perjalanan tersebut dilakukan atas permintaan sang uwak Prabu Teguh Darmawangsa di Kahuripan yang ingin menjodohkan sang pengeran dengan putrinya yang bernama Dewi Galuh. Ratu Mahendradatta sebenarnya adalah putri Sang Prabu mPu Sindok dan merupakan adik kandung Prabu Tguh Dharmawangsa. Dengan demikian Pangeran Airlangga akan dinikahkan dengan saudara sepupunya sendiri, dan kelak di kemudian hari diharapkan sebagai pewaris tahta Kahuripan penerus dinasti Isyana.

Singkat cerita tibalah hari perkawinan agung. Segala persiapan pesta telah dilakukan secara besar-besaran. Tidak tanggung segala rakyat datang dari pelosok negeri berbondong-bondong, laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, tanpa kecuali mendatangai kotaraja. Mereka ingin turut memberikan doa restu kepada mempelai berdua, dan memang kebijakan sang prabu menitahkan bahwa seluruh rakyat Kahuripan diundang ke istananya tanpa kecuali.

Namun tanpa diduga sama sekali, negeri Wurawari yang mempunyai dendam kepada Kahuripan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan untuk menyerang dan menghancurkan Kahuripan. Dan karena kelengahan pertahanan Kahuripan akibat terhanyut oleh suasana pesta, maka dengan mudah pasukan Wurawari memporak-porandakan istana, bahkan Prabu Dharmawangsa gugur dalam pertempuran, dan sang permaisuripun turut bela pati.

Karena kecakapan pengawal pribadi Airlangga yang bernama Narottama, maka sang pengeran dan istri yang baru dinikahinya dengan beberapa kerabat berhasil meloloskan diri. Rombongan pelarian ini kemudian mengungsi ke daerah Ampel. Di sana kemudian Airlangga menitipkan istrinya kepada Ki Buyut Ampel. Pangeran Airlangga kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari pendeta guna belajar sutra sebagai bekal hidup di kelak kemudian hari. Atas petunjuk mPu Bharada, sampailah sang pangeran menenui sang bhiksu Budha di lereng gunung Penanggungan.

Alkisah suatu hari sang Airlangga diminta oleh gurunya untuk membeli beras sebagai persediaan bahan makanan perguruan kepada Ki Buyut Niti di dusun Cane. Pada kesempatan perjamuan, putri Ki Buyut menghidangkan suguhan. Dan betapa terpesona sang pengeran melihat kecantikan sang dewi. Dan seketika dia berniat mempersunting putri Ki Buyut tersebut. Dan atas restu dari bhiksu Budha gurunya, dipinanglah sang dewi dengan mas kawin yang dihutang. Karena mas kawin dihutang oleh sang pangeran, maka sesuai dengan adat di masa itu, sang pangeran harus tinggal menetap di rumah mertuanya. Dari pernikahan dengan Mahadewi ini, Pangeran Airlangga dianugerahi seorang putra yang diberi nama Mapanji Garasakan.

Sang bhiksu Budha yang telah uzur usia, pada suatu hari sakit keras. Di tengah sakitnya sang bhiksu kemudian mengundang seluruh cantriknya dan juga Ki Buyut Cane. Dalam suasana haru diwasiatkannyalah bahwasanya salah seorang cantriknya seseungguhnya adalah Pangeran Airlangga, penerus wangsa Isyana yang paling berhak atas tahta Kahuripan. Sebagai bukti kebenaran ucapannya dikeluarkanlah cincin berukir garudha mukha, simbol kebesaran raja Kahuripan. Dan dipesankanlah kepada seluruh rakyat Kahuripan untuk bersatu menegakkan Kahuripan dengan menobatkan Airlangga sebagai raja yang baru.

Maka dari dusun Cane itulah disusun kembali kekuatan kerajaan. Ki Buyut Niti diangkat sebagai penasehat politik raja, sedangkan sang Narottama diangkat sebagai perdana menteri, sementara sang istri diberi gelar Mahadewi diangkat sebagai permaisuri kedua. Hal pertama yang dilakukan sang prabu tentunya menjemput Permaisuri Dewi Galuh di Ampel. Setelah seluruh kerabat telah berkumpul kembali, maka mulailah ditata kembali kerajaan Kahuripan.

Kekuatan pertahanan kerajaan dibangun kembali dengan mengumpulkan pemuda-pemuda pilihan dari segenap pelosok negeri. Setelah pasukan dirasa kuat, sang prabu mulai melebarkan kekuasaan dengan menyerang musuh-musuh Kahuripan. Dan tak begitu lama kemudian kerajaan Wurawari sebagai musuh bebuyutan kerajaan berhasil ditakhlukan.

Setelah melebarkan sayap kekuasaan, sang prabu kemudian berniat membangun kutaraja. Maka dicarilah daerah keramat di lereng Gunung Penanggungan yang kemudian diberinya nama Wwatan Mas. Kemudian untuk meningkatkan hasil pertanian, dibangunlah Saptawringin dengan membendung sungai Brantas. Dan memang tanpa terlalu lama kesejahteraan rakyat meningkat, dan negeri Kahuripan menjadi negri yang gemah ripah loh jinawi, makmur sejahtera, tercukupi segala kebutuhan sandang pangannya.

Bukanlah kehidupan duniawi apabila tiada hambatan atau cobaan hidup. Dan dalam sejarah Kahuripan terceritalah seorang janda dari Waru Doyong yang bernama Nyi Calon Arang. Diakarenakan profesinya sebagai dukun santet maka jarang orang yang berani berurusan dengannya. Hal tersebut mengakibatkan anak gadisnya menjadi perawan tua, karena tidak ada pemuda yang berani meminangnya. Kenyataan ini menjadikan Nyi Calon Arang dendam kepada semua orang, sehingga dengan ilmu teluhnya, sang dukun menebarkan malapetaka berupa wabah penyakit aneh ke seluruh pelosok Kahuripan. Akhirnya baginda raja mengutus Mpu Baradha untuk mengatasi hal tersebut. Dengan mengumpankan cantrik kinasihnya, dilamarlah putri Calon Arang. Melalui anaknya inilah kemudian bisa diketahui rahasia ilmu hitam sang dukun santet. Dan akhirnya malapetaka santet dan teluh yang disebarkan Calon Arang berhasil diberantas.

Al kisah, dari permaisuri pertama Dewi Galuh, Prabu Airlangga dikaruniai dua orang anak, yang pertama seorang putri bernama Sanggramawijaya dan adiknya laki-laki bernama Pangeran Samarawijaya. Sang putri semenjak remaja telah gemar membaca sutra Budha, dan memang di kemudian hari sang putri lebih memilih menjadi seorang pertapa dengan gelar Kilisuci.

Pada suatu hari di kala mandi di patirtan kaputren, sang permaisuri Dewi Galuh terpeleset hingga terjatuh dan menemui ajalnya. Sepeninggal permaisuri menjadi gundah gulana dan gelisah hati sri baginda. Setelah merenung panjang diputuskanyalah bahwa sang prabu berkeinginan untuk lengser keprabon dan lebih memilih menjadi pertapa untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi Wasa. Dengan demikian maka tahta kerajaan akan segera diserahkannya kepada putranya.

Namun kebimbangan melanda pikiran baginda, karena memiliki dua permaisuri dan keduanya mempunyai dua orang putra yang sama-sama mempunyai hak atas tahta Kahuripan. Akhirnya teringatlah baginda akan haknya atas tahta kerajaan Bali. Maka beliau kemudian mengutus Mpu Baradha untuk menanyakan haknya atas tahta Bali. Kerajaan Bali saat itu telah diperintah oleh Prabu Anak Wungsu, adik kandung Prabu Airlangga. Dan kenyataannya upaya meminta hak atas tahta Bali tidak berhasil.

Kemudian sebagai jalan tengah, atas usulan Mpu Baradha, maka dipecahlah kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan. Kerajaan lama kemudian berganti nama menjadi Jenggala dan Mapanji Garasakan sebagai raja, wilayahnya meliputi Kahuripan sebelah utara sungai Brantas. Sedangkan palihan negara yang lain diserahkan kepada Pangeran Samarawijaya yang bertahta di Daha dengan wilayah kekuasaan di selatan sungai Brantas.

Demikianlah sejarah perpecahan kerajaan berawal. Dan kelak juga berlanjut kepada kerajaan Mataran Islam pada saat terjadinya perjanjian Giyanti yang memecah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Belum cukup sampai di situ, Kasunanan pecah lagi dengan lahirnya Mangkunegaran, sedangkan Kasultanan pecah dengan adanya Pakualaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar